Kenangan dari Beliau

        Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti tahun. Periode status mahasiswa pun tiba pada tingkat yang paling ‘ditakuti’ katanya. Itulah yang ada dipikiran kebanyakan mahasiswa. Habisnya matakuliah yang harus ditempuh mahasiswa dengan ujung yang dinamakan dengan penyusunan tugas akhir atau skripsi. Kegiatan inilah yang paling tidak disukai sebagian mahasiswa yang tidak terbiasa dengan kegiatan tulis-menulis tersebut. Hal itu disebabkan memang adanya yang namanya ‘malas’ dalam diri mereka, mulai dari harus membaca berbagai buku sumber yang akan digunakan sebagai rujukan tulisan, hingga menunggu sang pembimbing yang terkadang memang sedikit membuat semangat mahasiswa naik turun.

      Nah, tibalah pada semester akhir, semua sudah mulai memikirkan judul apa yang mampu ia kembangkan menjadi tulisannya untuk memenuhi tugas akhir atau skripsinya. Judul sudah ok, ajukan ke pihak jurusan, ok, diterima. Selanjutnya beberapa minggu ke depan terdengar kabar yang begitu mengejutkan. Pembimbing yang ditunjuk benar-benar tidak terduga! Salah satu dosen yang sebelumnya belum pernah berinteraksi dengan ku di kegiatan perkuliahan, ditambah dengan kabar yang kurang menyenangkan tentang beliau. Tak apa, semua harus diusahakan, insya Allah diberi kemudahan. Tak tahu sebenarnya apa yang dirasakan, ada sedikit rasa canggung untuk memulai kegiatan bimbingan. Nah itulah gunanya keluarga, keluargalah sumber semangat, saudara menyarankan untuk memulai berkomunikasi dengan beliau. Beberapa tips dan trik pun diberikan sesuai dengan pengalamannya. Ok, beberapa tips dan trik untuk memulai berkomunikasi sudah ada ditangan, sekarang keinginan untuk melangkah belum terkumpul dengan baik, seperti harus direnungkan. Setelah beberapa  bulan, keinginan untuk memulai pun tiba, hasrat untuk konsultasi sudah kuat. Bahan ok, mulai konsultasi, saat perjumpaan pertama sangat di luar prediksi, jika  dalam istilah sehari-hari, “langsuang kanai gas!“. Tak apa memang benar, salahku, beberapa nasihat yang mulai mengubah kepribadianku, simple memang, namun itulah yang diajarkan agamaku. Untuk selanjutnya hal-hal  yang baik pun mulai muncul, beliau bersedia dihubungi melalui media yang biasanya yang lain kurang aktif.

       Memulai kegiatan konsultasi dengan menggunakan media surat elektronik. Tak begitu lama, pesan pun sudah direspon dengan baiknya, meski ada kata-kata di halaman terakhir yang sedikit menyentak hatiku. Benar memang, lagi, aku mendapat pelajaran. Harus lebih memperbaiki sikap dalam menyusun redaksi, referensi begitu penting. Setelah beberapa lama kegiatan konsultasi pun terhenti, sebab kegiatan lain yang dirasa tidak dapat dihindari.

      Beberapa bulan kemudian konsultasi tatap muka kembali diintensifkan, dengan hanya beberapa kali konsultasi sudah diizinkan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, sedikit kaget sebenarnya, beliau beberapa kali seperti hendak menantang untuk masuk ke tahap selanjutnya. Dengan itulah mulai hadir kembali semangat untuk segera menyelesaikan ini semua. Ok, tiba saatnya tahap tersebut, lagi, aku mendapat pelajaran hidup, kedisiplinan beliau begitu luar biasa. Sungguh menyemangatiku untuk tampil baik pada tahap itu. Alhamdulillah tahap itu dilalui dengan baik, berkat doa dari keluarga, terutama ayah.

      Tak mau berlama-lama, tahap-tahap berikutnya menunggu. Satu pesan yang diberikan, “Berbanggalah dengan yang kamu buat dan lakukan, tapi ingat bangga, bukan sombong, tipis bedanya!“. Pesan moral yang begitu berharga. Konsultasi pun dilanjutkan, dengan beberapa pertemuan untuk memulai kegiatan penelitian. Dengan perjuangan, kegiatan itu dilakukan berdampingan dengan kegiatan lain. Dengan pengarah yang begitu berkesan pula di tempat penelitian, pengalaman yang indah. Semua dilalui sesuai dengan apa yang harusnya dilalui setiap mahasiswa yang menenmpuh proses pendidikan di perguruan tinggi. Semua orang yang dihadapkan padaku merupakan panutan yang kurasa begitu besar pengalamannya.

      Setelah proses penelitian selesai, selanjutnya kembali berkonsultasi di kampus. Lagi-lagi hal tak terduga, beliau memberikan beberapa refensi untuk dibaca dan dipahami sebagai bekal untuk menempuh ujian, memang saat itu materi yang diberikan di buku tersebut belum dikuasai dengan baik. Sebagai tantangan harus dipahami dalam beberapa hari. Komitmen yang cukup berat mengingat begitu banyak topik yang dibahas dalam referensi tersebut. Hari kesepakattan kegiatan konsultasi dilanjutkan dengan diawali tanya jawab berkaitan dengan referensi yang diberikan. Itu adalah bekal untuk menempuh ujian akhir nanti, alhamdulillah sudah sedikit dikuasai. Tak lama kemudian persetujuan untuk ujian akhir didapatkan.

      Beberapa minggu kemudian, ujian pun dilakukan dengan lancar, dan alhamdulillah lulus. Ternyata beliau, memang tak mau basa-basi, dan tak mau juga berlama-lama. Satu yang kurang memang, pertanyaan dari beliau tidak terjawab. Ujian telah dilalui, selanjutnya hal yang terakhir dilakukan demi memperlancar proses adminitrasi. Konsultasi jurnal pun dilakukan, setelah mendapatkan persetujuan akhir, satu lagi yang ternyata adalah kesimpulan dari kegiatan konsultasi sekian lama, “Satu pesan, jika kamu membimbing, bimbinglah dengan sepenuh hati, jangan memandang apa yang didapatkan nantinya, jika menjadi guru, bimbinglah dengan sepenuh hati, dari hati“.

Semoga nanti dapat melakukan hal yang sama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s