Di Sini, Akhirnya Bermula

Jpeg

Akhirnya di sini

     Selasa 15 Maret 2016, akhir tiba di kota itu, Makassar. Kota yang sebelumnya terpikir adalah sebuah kota besar seperti Jakarta, Surabaya ataupun Medan. Sayang, kenyataanmya tak demikian, itulah “menurutku”. Tiba di kota ini disambut dengan sinar matahari senja yang begitu menyilaukan. Saat berangkat dari kota yang ku Cinta, Padang, pada pukul 11.15 WIB, perjalanan terhenti sejenak di ibukota negara, Jakarta. Tiba di kota itu pada pukul 13.10 masih dalam waktu indonesia barat. Sejenak dapat beristirahat untuk melihat-lihat sekilas mengenai ibukota negara. Setelah itu perjalanan menuju Makassar dilanjutkan pada pukul 15.00 masih dengan waktu indonesia barat. Perjalanan dengan durasi selama dua jam lebih sepuluh menit pun dilalui dengan nyaman. Kenyaman yang didapatkan berkat pemilihan maskapai penerbangan yang terpercaya untuk layanannya di Indonesia.

     Singkatnya dengan perjalanan dalam durasi yang demikian, pada pukul 18.10 WITA, kami tiba di Kota Makassar. Tak ada sesuatu yang wah ketika mulai akan menapaki kaki di bandara ini. Entah itu karna hari yang sudah mulai gelap. Namun itulah kesan yang didapatkan saat menjejaki pertama kali di kota ini. Demikian kesan mengenai bandar udara di kota ini. Namun bila dilihat melalui media online, ada sesuatu yang menarik yakni desain atap yang khas dimiliki bandar udara kota ini. Tetapi hal itu tak cukup terlihat, sebab ketika kami leluar menuju bagian luar depan bandar udara ini hari sudah begitu gelap. Akan tetapi hal yang paling mengejutkan adalah dengan banyaknya calo yang saya anggap bergaya preman yang menawari dengan sangat antusias dan cenderung memaksa kepada para penumpang yang baru saja mendarat. Tidak ada nampak bus damri yang identik ada disetiap bandara yang pernah dikunjungi selama ini, Padang, JakartaP_20160503_133619_BF.jpg        Malahan di Jambi beberapa tahun yang lalu ada angkutan umum yang melintas tak jauh dari bandara tersebut. Ada begitu banyak pilihan angkutan yang dapat dipilij secara bebas untuk keluar menuju tujuan akhir dari masing-masing penumpang. Perlu dicatat bahwa di bandara tersebut tidak begitu banyak calo yang membuat penumpang tidak nyaman mencari angkutan menuju tujuan akhir. Untunglah pada saat itu ada beberapa teman yang berasal dari sini berbaik hati untuk menyediakan angkutan kami menuju penginapan kami selama satu tahun di kota ini, Makassar. Ada hal yang dirasa “lain” pula ketika kami mengangkat barang bawaan, kami tidak tahu entah itu bagian dari teman yang membantu mengangkatkan barang bawaan ke atas bus yang menjemput kami. Tanpa adanya tawaran, ia langsung saja mengangkat barang bawaan kami ke atas bus. Setalah selesai menaikkan barang bawaan kami, seseorang yang ikut membantu mengangkatkan barang tersebut meminta “bayaran” atas jasa yang telah ia lakukan. Saya pribadi merasa heran, hal ini bertambah pula bahwa teman yang berasal dari Makassar pun tidak tahu bahwa orang tersebut adalah porter ilegal bandara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s